random

Depresi

Masa-masa akhir perkuliahan merupakan sebuah era depresi periodik yang selalu saja menggulung berulang dalam gelombang kehidupan mahasiswa. UAS. Momok yang terlabeli hanya dalam tiga kata ini memang terlihat sangat menakutkan bagi mereka yang masih belum bersiap-siap perang dengannya sejak awal. Ujian, tugas belum kelar, jarang makan, tidur haram, spp belum dibayar, ibu kos mencak karena tunggakan kos-kosan, sedang yang bergelayut di otak hanyalah liburan, liburan, liburan.

 

Depresi memang bisa melanda siapa saja. Tidak tua, muda, mahasiswa, dosen, atau artis, bahkan tunawisma. Kerap kali depresi diartikan sebagai keadaan penuh beban hidup, stress  karena tekanan pekerjaan atau tuntutan-tuntutan tanggung jawab lainnya termasuk perkuliahan. Akibatnya pun bermacam-macam, mulai dari kecemasan hingga kadang berujung pada kematian.

 

Pada (16/4) tahun 2007, Seung-Hui Cho pemuda Korea Selatan yang tinggal di Amerika ini membunuh 32 orang sebelum mengakhiri hidupnya sendiri dengan pistol. Peristiwa ini terjadi di kampus Virginia polytechnic Institut and State University. Yang kemudian dikenal di media sebagai The Virginia Messacre.

 

Media membuat berita ini semakin menakutkan dengan berbagai spekulasi. 32 orang sama persis dengan jumlah mahasiswa dalam kelasku saat ini, dan betapa tak bisa terbayangkan jika ada temanku yang datang masuk, mengacungkan pistol, membunuhku sebelum bismillah sempat terlontar dari ujung lidah. Tapi yang jelas, Cho merupakan pengidap gangguan psikologis yang biasa disebut dengan istilah keren selective mutism. Sebuah gangguan psikologis yang ditandai dengan kesulitan berkomunikasi serta kecemasan berlebihan.

 

Setiap orang pasti pernah mengalami stress maupun depresi. Perubahan emosi yang mendadak, sifat moody karena tugas yang menumpuk tak terurus atau karena sedang perang dingin dengan pacar. Mungkin saja kita pernah merasa dalam satu hari mengalami berbagai kejadian tak menyenangkan yang beruntun dengan kesialan tak terduga. Tapi bagi sebagian orang fase depresi seperti menelan pil dengan vodka. Membuatmu melayang tinggi, entah untuk kemudian jatuh atau untuk melayang selamanya dari dunia ini.

 

Dalam buku Psikologi Abnormal, Mark Durand dan David H. Barlow mengatakan bahwa perasaan depresi dan gembira bersifat universal. Bisa dialami oleh setiap orang dari variasi usia berbeda, gejala berbeda, dan stimulus yang berbeda pula. Hal inilah yang membuat mood disorders-gangguan suasana perasaan yang membuat orang begitu kehilangan daya hingga bunuh diri dianggap sebagai pilihan yang lebih baik daripada tetap hidup-menjadi sulit dipahami dalam ranah kondisi normal..

 

Depresi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipelajari, terutama karena konsekuensinya yang kadang tragis. Kita sangat sering mendengar berita tentang perang terhadap kanker atau kekalutan untuk segera menemukan obat AIDS. Kita juga mendengar berbagai saran ‘abadi’ untuk memperbaiki diet kita dan lebih banyak berolahraga untuk mencegah penyakit jantung dan diabetes.

 

Tetapi ada penyakit lain yang berada pada tingkat yang sama tingginya dengan kondisi medis paling menakutkan saat ini. Bunuh diri. Keputusan yang di ambil oleh hampir 30.000 orang per tahun di Jepang saja. Wow, lalu berapa jumlahnya di seluruh dunia? Sebagian besar pakar epidomiologi sepakat bahwa angka aktual bunuh diri mungkin dua atau tiga kali lebih tinggi dari angka resminya. Di seluruh dunia, bunuh diri mengakibatkan lebih banyak kematian setiap tahunnya dibanding pembunuhan atau perang (WHO, 2002).

 

Dalam Al Qur’an, “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (QS. Al-Kahfi ; 6). Betapa agama sangat melarang tindakan ala Curt Cobain ini, tak hanya dalam Islam. Dalam Kristen, Alkitab memandang bunuh diri sama dengan pembunuhan, yaitu membunuh diri sendiri. Allah adalah yang menentukan kapan dan bagaimana seseorang harus mati. Mengambil hak itu dari tangan Tuhan, menurut Alkitab, adalah penghujatan terhadap Tuhan.

 

Betapa pula sangat perlu kita sadari bahwa seberapa besar pun depresi yang kita alami tidak membuat pembenaran bahwa menggantung leher di kamar mandi atau menyayat urat nadi sendiri adalah sesuatu yang patut dimaklumi.

 

Selain depresi, gangguan suasana perasaan lainnya adalah mania. Yaitu kegirangan, kegembiraan, dan euforia eksesif secara abnormal. Biasanya penderita akan menjadi hiperaktif, sedikit tidur, mengucapkan ide berlompat-lompatan, sangat bersemangat, dan yakin akan bisa mencapai hal-hal luar biasa yang tak masuk akal.

 

Banyak orang-orang di sekitar kita yang mengalami fase depresi berat dalam kehidupan mereka. Ketika ada teman, keluarga, atau tetangga yang selalu tampak murung, tidak bisa bersosialisasi, terlihat lelah dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasa disukainya, kemungkinan besar dia sedang mengalami fase deperesi dalam kehidupannya.

 

Kita tidak pernah tahu dan tidak cukup tahu bagaimana menangani sebuah gangguan psikologis seperti depresi. Jangankan mencoba bersimpati, tak jarang kita selalu mencemooh orang-orang yang mungkin berperilaku aneh pada kesehariannya. Merasa takut apabila mereka dapat menyakiti atau menularkan, merasa risih apabila berada dekat dengan selalu mengencangkan sabuk kewaspadaan. Lalu segera tancap gas apabila ada kesempatan.

 

Setiap individu tumbuh dalam lingkungan yang beraneka ragam. Tumbuh dengan berbagai kapasitas kesadaran dan kepribadian yang tak sama satu dengan lainnya. Ada beberapa orang yang membawa sejak lahir benih-benih depresi karena gen keturunan. Ada yang mendapatkannya seiring pertumbuhan. Proses bertumbuh itu pun akan banyak mempengaruhi cara pandang, kebiasaan, pola pikir, ideologi, dan hal-hal lain yang akan selalu menemukan sandungannya di tengah jalan.

 

Selalu berpikir positif, selalu banyak dikatakan tidak hanya di pengajian desa namun juga sampai di seminar-seminar motivator ternama. Ada yang menggapnya sangat mudah, ada yang bilang susahnya naudzubillah. Apa pun caranya, depresi bisa dideteksi dan ditangani. Tidak hanya dengan obat antidepressant atau pergi ke psikolog terkenal. Semua bisa dimulai dengan kepedulian. Cukup dengan sebuah pelukan hangat orang-orang terdekat. Hal-hal kecil yang mampu membuka rotasi baru kehidupan bagi orang lain.

 

Dan aku masih berani mencinta

Detak cahaya pada jam mati,

Warna waktu pada tembok tersia.

Di tatap mataku kulesapkan segala,

Betapa jauh mendamba, betapa dekat sadari tak ada.

 

Suara Pengemis, Alejandra Pizarnik (1936-1872). Seorang penulis Argentina yang meninggal karena bunuh diri dengan obat-obatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s