random

Rumah itu

Rumah itu tidak besar. Rumah itu tidak indah.

Rumah itu tidak bersih. Rumah itu tidak rapi.

Rumah itu tidak sepi. Rumah itu, rumahmu, rumahku..

 

Sebuah taplak meja plastik berwarna peach kotak-kotak, satu teko teh hangat yang baru diseduh dikelilingi 4 buah gelas belimbing kecil. Dua di antaranya, masih bernoda bekas kopi tadi malam yang tidak tercuci bersih.

Di sebelah kirinya terletak sebuah almari buffet setengah pinggang, berpintu kaca, geser kanan kiri, dengan 4 laci kecil dibawah. Ditumpuki oleh gelas-gelas hadiah Nuvo dan sabun Pretty tahun ’90an. Serta berbagai benda rongsok mulai dari silet Tatra tanpa pegangan yang teyengan hingga gigi taring yang copot ketika umur delapan. Di atasnya tidak ada vas bunga, tidak ada foto anak cucu keluarga, hanya tumpukan kerdus berbagai merek obat nyamuk batang yang disimpan entah sejak kapan.

Maju ke depan, tergeletak di pojokan, sebuah meja kotak kecil dengan tinggi kira-kira 70cm. Bersama dengan TV 14″ yang kesemutan, menyala hampir 24 jam setiap hari sepanjang malam. Satu-satunya kemewahan yang ada di tumpukan debu, dan lembar-lembar tagihan listrik yang digulung dan dikumpulkan, ditata, di persiapkan untuk seseorang yang hanya pulang rutin sekali setiap hari raya dan selalu membawa gulungan itu untuk di lempar ke amplop-amplop coklat permohonan beasiswa.

 

Rumah itu tidak besar. Rumah itu tidak indah.

Rumah itu tidak bersih. Rumah itu tidak rapi.

Rumah itu kini sangat sepi. Rumah itu, rumahmu, rumahku..

 

Tiga kotak lubang di dinding, dengan dua pintu kayu, dan satu pintu kelambu motif pucuk rebung berwarna marun. Dengan dua dipan berkasur, dan satu dipan hanya dengan tikar dan selimut serta sajadah usang. Dua dipan berkasur yang tak berpenghuni, selalu di bersihkan dan di ganti, sewaktu-waktu jika pintu-pintu kayu itu mulai berderit, jika ada langkah-langkah kaki yang lain datang menjenguk, jika ada satu langkah kaki yang hanya pulang setahun sekali dan menggunakan kasur sebagai almari karena tidak tidur di malam hari. satu langkah kaki yang suka sekali bergeletakan di tikar depan tv, dengan setoples kerupuk, sepiring salak atau jeruk, kadang juga mangga atau pisang merah, hidupnya seperti untuk sekedar duduk tidur makan, lalu pamit, lalu langkah itu pun pergi lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s