random

Sungut Penaku

Banyak sekali hal yang melintas di depan mata, yang kemudian ingin di gores di abadikan dalam lembar-lembaran alinea. Baik sangat panjang maupun sangat pendek. Namun, tak selalu apa yang terlintas itu kemudian terdokumentasi dengan rapi.

Tanpa selip, tanpa lupa, tanpa tunda-tunda.

 

Hiruk pikuk dari hal-hal yang dibaca, di dengar, dilihat, dirasakan, lalu diceritakan kembali. Bukan dengan niatan membesar-besarkan atau memaksa pendengar maupun pembaca agar terkesima mengingat lalu mengambil hikmah (ya, kalau ada hikmahnya. Alhamdulillah pasti selalu ada. bahkan dari yang gelap2 juga, :D) namun lebih kepada konteks dokumentasi dan apresiasi terhadap perjalanan manusia yang bernama pengalaman.

 

berawal dari hal-hal sederhana yang bersifat keseharian, hingga mimpi atau khayalan-khayalan galau tak juntrung tujuan, segalanya. beralur, berima, tinggal bagaimana tangan dan pikiran menyelaraskan agar kalimat itu menjadi kalimat utuh. dan kadar utuh itu pun, terserah penulisnya mau seperti apa. terserah bagaimana ingin disampaikan dan didokumentasikan dalam jejak pikiran utama dan anak-anak kalimatnya.

 

Akhir-akhir ini, saya mencoba beberapa gaya yang berbeda. Bermula dari keisengan, lalu lambat laun menjadi obsesi tengah malam. Nerd mode on.
Mencoba di sini bukan berati saya telah mempunyai gaya, tapi bukan berati saya juga tidak punya ‘rasa’ saya sendiri. Namun yang saya lakukan adalah mencoba membuat tulisan dengan melompat dari alur yang biasanya saya lalui. dari proses yang paling sering saya cangking setiap kali. Bukan hal yang mudah, tapi kemungkinna selalu ada.

 

Pena saya bersungut.

Tulisanku amburadul. kubaca, tulis ulang, edit, tulis lagi. Apakah yang salah??

Ada yang tak menyenangkan dari aromaku membongkar pasang tulisanku sendiri. betapa melelahkan..
Kesuntukan mengeksplorasi idiom estetik seringkali tak menghasilkan apa-apa. Kesadaran berlebighan demi menghasilkan sebentuk paragraf berkadar literer bisa seperti racun bagi kreatifitas.

 

Saya rindu.

Ketika menulis tanpa harus memahami unsur-unsur narasi ternyata sangat membuncah mengasyikkan.

 

Begitu pula dari kebanyakan tulisan yang akhir-akhir ini saya baca, terkelompok, terkotak.
Dan yang paling saya heran, kenapa banyak sekali yang bertutur dengan menyebutkan sebab alasan dari satu hingga sekian lalu diberi kesimpulan lalu tetap menganggap bahwa itu adalah sekedar curhatan??
benar, saya heran. betapa tidak.
karena saya tidak bisa. tidak puas. tidak cukup untuk sabar menyebutkan tanpa kehilangan pegangan dan limbung tengah jalan.

 

saya iri.

dengan tulisan blog yang panjang berkilo-kilo meter dan punya satu dua kalimat bergaris tebal untuk tiap penyebutan. istilah saya.

 

sungut penaku.
aku sungguh bersungut.

 

siapa yang tak ingin terjerembab menjadi tukang cerita??
Di mana  dunia begitu luas putus sambung sekedar bersenjata tutup tambal kata-kata.

 

Nikmatilah. Bagaiimanapun bentuk dan gaya tulisan kita.
Mumpung belum ada yang mengatakan bahwa isi otak berbanding lurus dengan panjang paragraf. karena jika sudah ada, saya pasti berada di lajur militan bersama ribuan lainnya yang bernasib memuja alinea tanpa penyebutan dan garis tebal..

 

Nikmatilah. Nikmatilah..
Alhamdulillah.
Saya selalu menikmati apa yang saya tulis, bahkan yang hasil bongkar pasang sekalipun. meski tanpa garis tebal. meski tanpa sebut angka satu dua tiga.
Amin.
^^d

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s