random

Menemukannya (Edited version)

Zalakeren

Zalakeren

Manusia adalah makhluk dengan akumulasi keinginan yang tak terhingga jumlahnya. Hasrat untuk menginginkan itu pun kadang dipelihara, disirami sedemikian rupa, agar bisa bertumbuh dan bercabang ke arah tujuan yang terserah hatinya saja. Manusia itu, manusia itu dia, manusia itu pula aku.

Kita akan bercabang dan saling menjalin. Kita akan bertumbuh dan saling bersaing. Kita akan sama-sama menjadi sama sekali berbeda dari semula. Kita mungkin akan sampai pada tempat-tempat yang sama sekali tak terduga, terjalin dengan manusia-manusia lain yang sama sekali tak kita kira.

Kita akan belajar. Belajar melilit, mengendur, dan mengencang. Membuat cabang dengan ranting-ranting yang kokoh agar kita tidak patah ketika bersinggungan dengan yang lain. Keinginan lain-lain. Inginnya. Inginku pula.

Aku ingin membaca buku. Duduk di sebuah kamar yang nyaman, dengan udara sejuk. Dengan penerangan yang menyenangkan..Ditemani musik ’60-an. Mengunyah makanan ringan, sesekali membuat catatan. Menyandarkan punggung di punggungnya, sesekali memaksa otak untuk memikirkan apakah dia bosan. Kemudian batal bertanya karena aku suka keheningan.

Biar saja dia dan otaknya dan juga hasrat inginnya bercabang sesuka sejauh yang dia suka.
Biar saja kita menempelkan punggung, namun pikiran hati dan alur keinginan tetap bisa bebas memilih untuk tidak membelit jika tak sudi berkompromi, jika tak tersedia energy untuk berinteraksi.

Aku ingin membaca buku. Dia ingin membuat lagu.

Cukup seperti ini dan kami mampu mengerti. Semua yang akan hilang tanpa kami sadari. Semua yang akan muncul tanpa kami kehendaki.

Semua yang bernama ‘ingin’. Manusia itu, manusia itu dia. Manusia itu pula aku.

Sebuah pertemuan yang tak pernah kukira. Yang tak pernah diduga. Dengan selembar KTP nyasar di sebuah terminal, Tuhan mempertemukan diriku dengan dirinya. Tujuh tahun yang terasa seperti putaran angka, begitu cepatnya. Kuingat betul bagaimana dia tersenyum melihatku, menanyakan namaku, mengucapkan terimakasih karena aku mengembalikan identitas dan juga dompetnya yang hilang di sebuah perjalanan, membuatku tersenyum seharian tanpa kejelasan. Hari itu, bertahun yang lalu, aku tidak pernah ragu telah menemukan manusia yang sangat menawan, yang terlalu menyiksa untuk diabaikan.

Sejak dulu aku selalu yakin, aku adalah tipe manusia yang sukar berkompromi mengenai keinginan. Egois dan seenaknya. Begitu pula sejarah hubunganku dengan pria, selalu berakhir karena aku tak pernah bisa melewati jalur yang banyak diyakini sebagian besar manusia. Komitmen. Komitmen selalu butuh yang namanya kompromi, tapi jatah mangkuk kompromi bagi orang lain bagi diriku tentunya tidaklah harus sebanyak itu. Aku tetap ingin jadi diriku. Aku tetap ingin memiliki waktuku. Aku tetap ingin bisa menolak pergi jika tidak suka, atau menutup telepon jika sedang tidak ingin bicara.

Setelah bertemu dengannya. Segalanya menjadi lebih mudah. Dengannya, duniaku beranjak menyeruak beraneka. Komitmen bukan lagi hal yang menakutkan, bukan belut yang sukar dikendalikan. Kita menjadi partner dalam banyak perbedaan, kurasa saat itulah aku menyadari ini bukan hanya sekedar cinta. Aku telah menemukan sahabat terbaik, dan saingan terhebat dalam hidupku yang segalanya serba sedang-sedang.

Tidak ada manusia yang sempurna. Kami yang sama-sama egois. Kami yang sama-sama tak ingin saling dibelit. Menyadari dan mengerti benar arti ketidaksempurnaan masing-masing. Bahwa segala hal butuh jeda. Ketiadaan menyempurnakan keberadaan. Aku mencintainya, dan mungkin, hanya mungkin, untuk waktu yang sangat sangat lama di masa depan. Yang hebat adalah, ini bukan janji. Dan kita berdua tahu benar tentang itu. Tuhan memberiku anugerah, dengan memberiku kesempatan menemukannya.

Menemukannya.

Karena akan datang masanya, bagi kita berdua untuk melepas, meregangkan pegangan tangan, dan akhirnya benar-benar kehilangan setelah menemukan.

Rukhshotul Izalah
Surabaya 27 Februari 2012

NB:
Frase pinjeman dari DEE –> Ketiadaan menyempurnakan keberadaan. ^^

Saya pikir-pikir, setelah membongkar gunungan file-file tulisan tak tertuntaskan di masa lalu. Alangkah baiknya jika menghidupkannya kembali satu-satu tulisan saya sendiri yang pernah di permak beberapa kali seperti tulisan ini yang awalnya adalah sebuah Flash Fiction yang saya tulis tahun 2010 berjudul awal Antara Inginku, Inginmu, dan Dia. Dan versi terbarunya saya mengubah judulnya menjadi lebih mudah “Menemukannya”. Versi lamanya -bagi yang suka baca note fb atau blog saya- sudah pernah saya unggah, jangan kaget kalau seperti baca sesuatu yang sudah pernah dibaca sebelumnya.
Cerita ini terinspirasi kisah sahabat saya yang menemukan pasangan hidupnya karena jatuh cinta pada sahabat baiknya sendiri dan sekarang telah berbahagia dengan seorang putra. Meskipun tentu tak semuanya saya tuliskan sama persis, karena inerpretasi perasaan itu tentunya interpretasi imajinasi saya sendiri dan kegalauan saya saat sedang gila-gilanya dua setengah tahun silam. Ngaruh broo!! 😀

“I’m lucky I’m in love with my bestfriend,” she said that to me in one night over phone.

Yang kalau dilihat lagi, selama hampir kurun waktu itulah saya juga telah mati suri dalam menulis fiksi. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu, tak satupun cerita yang bisa saya tuliskan baik dengan keyboard atau dengan pena. Terkadang terbersit pertanyaan, kenapa? apa yang salah? Apakah saya memang telah kehilangan gairah membara bercumbu dengan kata-kata, ataukah karena dalam hati saya mulai meragukan tulisan saya sendiri yang notabene seperti surat cinta salah alamat, salah pengamat? Well, who knows. I really don’t know.

Bahkan sampai sekarang, saya masih belum mampu menulis. Jangankan satu paragraf, satu kalimat saja tidak. Hehe

Oleh karena itu, jika memang tidak ada stock tulisan baru, kenapa tak menghidupkan lagi tulisan-tulisan lama yang sudah menggunung di masa lalu ini? Semoga menjadi pemantik sesuatu, terutama sesuatu yang bisa menghidupkan lagi pena di hati dan pikiran saya. Semoga bermanfaat… ^^

Chance favours the prepared MIND

Nite, everybody.
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan….

Advertisements

2 thoughts on “Menemukannya (Edited version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s